"Eh iya, sorry tadi bilang apa?" Tanya sally pada hendra
"Bisa bicara sebentar engga? Aku pengen ngobrol sama kamu"
"Emmm sorry, engga bisa. Aku banyak kerjaan"
"Please, 1 hour, and i will let go"
Sally terdiam dan berkata "oke. 1 hour"
Keadaan seketika hening saat mereka berdua berjalan dan menghampiri kursi taman yang berada di pinggir gedung tempat hendra bekerja.
"Kamu apa kabar?" Pertanyaan hendra memecahkan keheningan
"Alhamdulilah baik. Kamu?"
"Baik juga. Alhamdulilah sekarang kamu udah berhijab"
"Hehe iyaa, kan aku waktu itu aku pernah bilang, semua akan berhijab pada waktunya"
"Hehe iyaa sall. Boleh nanya?"
"Iyap. Nanya apa?"
"Waktu itu kamu kenapa?"
"Waktu itu? Kenapa? Maksudnya?"
"Kenapa kamu berubah? Berubah jadi orang yang engga aku kenal, jadi orang yang seakan-akan kamu engga punya perasaan apa-apa sama aku"
"Boleh aku jujur? Selama ini aku pura-pura sayang sama kamu, aku cuma engga mau nyakitin kamu karena aku engga sayang sama kamu. Ternyata aku salah, sikap aku kaya gini malah bikin nyakitin kamu"
Hendra terdiam dengan menundukan kepala. Dia bingung, entah apa yang harus dia katakan, ternyata selama ini orang yang dia sayang hanya mempermainkan perasaan dia.
"Aku mau kita temenan. Kaya gini. Maaf kalo sikap aku selama ini nyakitin kamu. Aku tau aku egois. Maaf" lanjut sally
"Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Aku cuma ingin denger penjelasan dari kamu aja. Tapi sekarang aku udah tau penjelasannya. Oke fine" ucap hendra dengan senyuman tipis di bibirnya
"Maaf. Karena aku, kamu jadi kaya gini"
"I will married, sall"
sally terkejut hingga menatap mata hendra, seakan tidak percaya dengan apa yang hendra ucapkan tadi "Really? I'm so happy ndra. With?"
"Namanya Intan. 3 bulan setelah kamu pergi, aku banyak berubah, mungkin menjadi lebih baik untuk diri aku sendiri. Dan setelah itu, aku bertemu wanita yang aku pikir itu kamu sall, sangat mirip sama kamu. Tapi aku engga adil kalo aku mencintai dia karena mirip dengan kamu. Akhirnya aku mencoba untuk mencintai dia. And then, i will married"
"But you know, you always come to my mind, i think you still love me like me to you" sambung hendra
"Hey, you will married. Hapus semua perasaan kamu tentang aku, aku engga mau jadi orang jahat hanya karena kamu masih punya perasaan sama aku"
"Aku engga tau apa yang udah ngerubah sikap kamu kaya gini sall. Yang pasti, aku tetep sayang sama kamu. Aku berharap kamu yang menikah sama aku"
"Hus, gaboleh ngomong gitu. Aku bahagia liat kamu bahagia, dan kamu tau, sekarang aku pun sudah bahagia"
"Sama siapa?
"Dilan" ucap sally dengan bingung
Mengapa tiba-tiba sally mengucapkan nama itu? Mengapa tiba-tiba nama dilan yang sally ucapkan? Mengapa harus dilan lagi dilan lagi.
"Duh bego banget sih, kenapa nyebut nama dilan. Kenapa engga pura-pura nyebut nama haris atau siapa kek gitu. Duh" ucap sally yang dari tadi terus ngedumel karena merasa "bodoh" menyebutkan nama itu.
"Oke. Sekarang aku lega kamu udah nemuin orang yang bener-bener bikin kamu bahagia. Sekarang engga ada lagi ruang di hati kamu buat aku, engga ada lagi nama aku di pikiran kamu, engga ada lagi perasaan kamu buat aku. Makasih buat semuanya sall, makasih buat Pembelajaran selama kamu sama aku menjadi kita"
"Ndra" potong sally pembicaraan
"Ya?"
"Maaf. Aku cuma bisa minta maaf, aku engga bisa apa-apa. Maaf karena aku udah nyakitin kamu. Aku ingin kita bahagia dengan jalan masing-masing. Kamu harus bahagia sama intan, apapun yang terjadi"
"Aku bahagia sall, alhamdulilah. Kamu harus bahagia. Kamu patut bahagia" ucap hendra dengan memegang bahu sally dan tersenyum
"Iyaa ndra, insyaallah aku bahagia"
"Kayanya udah satu jam lebih deh sall. Sorry, aku engga nepatin janji"
"Engga apa-apa kok ndra"
"Yaudah, aku pergi yaa. Sesuai janji. Aku bakalan pergi dari hidup kamu. Sekali lagi, makasih yaa sall"
"Iyaa sama-sama. Aku duluan ke dalem ya, assalamualaikum ndra"
"Waalaikumsalam"
.
Sally meninggalkan hendra yang masih duduk di kursi taman dengan senyum di wajahnya, sementara hendra masih melihat sally yang sedang berjalan menuju arah gedung,
Entah kenapa perasaan sally pada saat itu menjadi tenang dan lega "kalo bakal kaya gini endingnya, kenapa engga dari kemaren-kemaren ya ngobrol kaya gini. Alhamdulilah"
Sesekali sally lihat ke belakang dan memastikan hendra tidak kenapa-kenapa, maksudnya memastikan hendra tidak meninggalkan rasa kecewa di muka nya. Dan sekarang, tidak akan ada lagi perasaan takut atau merasa tidak enak jika suatu saat mereka bertemu tidak sengaja.
Sally hanya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi, kesalahan dimana ia hanya ingin ber pura-pura mencintai orang lain hanya karena ingin melihat orang lain bahagia. Membuat orang lain bahagia memang bagus, tapi bukan dengan melakukan ke pura-pura an.
Dan tentang Dilan, apapun itu, Sally sudah bisa memastikan bahwa dia akan selalu mencoba untuk mempunyai pikiran "terserah" meskipun perasaan sally selalu ingin memastikan "kenapa" tapi, seiring berjalannya waktu, sally yakin semuanya akan memudar termasuk perasaan sally terhadap dilan.
.
"Kadang, aku berfikir sikap dilan ke aku itu memang karma karena aku udah nyakitin hendra. Tapi, kadang aku berfikir lagi, kalau ini jalan Allah biar aku menjadi lebih siap lagi ngadepin keadaan yang membuat aku bingung. Aku yakin, dibalik semua ini bakal ada rencana terbaik yang udah allah siapin buat aku. Tugas aku sekarang cuma jalan kedepan, mulai dari awal lagi, istirahat dulu lalu jalan kembali. Bukan sally namanya kalo engga bisa memulai dari awal kembali"
"Kadang, aku berfikir sikap dilan ke aku itu memang karma karena aku udah nyakitin hendra. Tapi, kadang aku berfikir lagi, kalau ini jalan Allah biar aku menjadi lebih siap lagi ngadepin keadaan yang membuat aku bingung. Aku yakin, dibalik semua ini bakal ada rencana terbaik yang udah allah siapin buat aku. Tugas aku sekarang cuma jalan kedepan, mulai dari awal lagi, istirahat dulu lalu jalan kembali. Bukan sally namanya kalo engga bisa memulai dari awal kembali"


0 komentar:
Post a Comment